*Menanam Padi * By :Darwis Tere Liye

 

Sawah

 

*Menanam Padi*

Da’i kondang Zainuddin MZ dulu pernah mengibaratkan menanam padi di sawah.

Barangsiapa menanam benih padi di sawah, maka insya Allah tumbuh padinya, pun juga ikut tumbuh rumput2nya. Tapi barangsiapa menanam benih rumput di sawah, maka demi Allah, sampai kiamat tidak akan ikut tumbuh padinya, hanya rumputnya yang tinggi sekali.

Itulah pengibaratan tentang amalan2 kita. Barangsiapa beramal semata2 karena Allah, maka tentu saja, hal2 dunia akan ikut serta. Tapi orang2 yang beramal semata2 karena urusan dunia ini, riya, pamer, maka sampai kiamat tidak akan tumbuh padinya, eh, diterima amalan tersebut.

Riya itu bagai debu halus yang sangat tidak nampak. Tapi merusak sekali. Banyak orang yang beramal, musnah sudah hanya karena riya. Menampakkan, memperlihatkan amalan memiliki resiko. Memang ada dalil2 yang boleh memperlihatkan amal secara terang2an, tapi setahu saya, itu merujuk kejadian menyangkut orang2 sekelas Abu Bakar, Umar Bin Khattab, yang memang teruji sekali hati mereka. Bagi kita orang awam, lebih baik mengambil jalan paling aman. Tapi kalau mau tetap memperlihatkan, yakin sekali niatnya oke, tentu boleh, tidak akan ada yang melarang.

Jejaring sosial ini menggoda sekali. Amat menggoda untuk kita pamer. Berhati2lah, agar kita tidak termangu kelak di ujung cerita. Merasa memiliki tabungan amal yang banyak, ternyata setelah dicek saldonya, kosong melompong. Jadi, kalau mau tetap posting, minimal pikirkan dua-tiga kali sebelum diperlihatkan. Apakah saya memang harus mengumumkan hal ini? Apakah saya sungguh tulus karena Allah, dan agar orang2 termotivasi? Jika tetap iya, monggo di posting. Insya Allah memang sudah kokoh niatnya.

Demikian. Mari kita menanam padi di sawah. Betoool apa Betool? (*baca dengan dialek khas Zainuddin MZ)

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: