JIKA AKHIRNYA PRESIDEN RI ITU TERPILIH…

DOA NABI ADAM

Ramadhan akan meninggalkan kita

Lentera

 

Harman Tajang.

JIKA AKHIRNYA PRESIDEN RI ITU TERPILIH…

Sahabat-sahabat yang baik…

Kita adalah orang-orang yang beriman kepada qadha’ dan qadar Allah.

Kita yakin dengan sepenuh iman bahwa:

Tidak sehelai daun yang jatuh ke bumi,
Tidak seekor semut hitam di malam kelam berakhir kehidupannya,
Tidak sebutir debu pun terbang ke puncak gunung tertinggi,
Tidak ada satu pun pergerakan di semesta,
Tidak ada satu pun kemenangan dan kegemilangan,
Tidak ada satu pun kekalahan dan keterpurukan,

Melainkan telah ditetapkan berpuluh-puluh ribu tahun sebelum kita tercipta oleh Allah ta’ala; Sang Maha Adil, Yang Maha melihat, Maha
mengetahui.

Keimanan dan keyakinan itulah yang membuat kita menghadapi kehidupan dan menatap masa depan dengan jiwa-jiwa merdeka penuh optimisme.

Merdeka dari semua bentuk pesimisme,
Karena kita yakin:

“Yang terbaik adalah apa yang ditetapkan Allah untuk kita.”

Dan semua pasti ada hikmahnya, karena “yang terbaik” untuk kita tidak mesti “yang paling kita sukai dan senangi”.

Mungkin “yang terbaik” itu justru sesuatu “yang paling kita benci”.

Keimanan dan keyakinan yang bulat seperti itulah yang memberikan 2 senjata utama kehidupan bagi setiap jiwa mukmin: SABAR dan
SYUKUR.

Mungkin hari ini adalah saatnya untuk bersabar.
Namun mungkin juga inilah momentum untuk bersyukur.

Tetapi yang pasti,
Ramadhan tidak lama lagi akan pergi.
Banyaklah bersujud.
Banyaklah beristigfar.
Banyaklah menangisi kekelaman diri.
Banyaklah berdoa:
Agar negeri ini dijaga dari makar-makar musuh Allah.
Doakan negerimu, agar tetap menjadi hamparan paling aman dan nyaman untuk para pejuang Tauhid dan Sunnah.

Dan kepada siapa pun yang akhirnya menjadi presiden negeri ini,
Aku sungguh bingung, layakkah aku mengucapkan selamat untuk Anda?
Sementara aku membayangkan:
Betapa beratnya pengadilan seorang presiden Indonesia di hari kiamat,
Ketika Anda harus dihisab tentang setiap 230 juta rakyat (mungkin sudah lebih) yang bertebaran dari Sabang hingga Merauke.
Ketika Anda harus dihisab tentang sumber daya alam negeri ini.
Ketika Anda harus dihisab tentang kemungkaran yang dibiarkan, tentang penghinaan dan pelecehan terhadap agama Allah, yang dianggap biasa-biasa saja atas nama kebebasan.

Tapi jangan khawatir:
Aku tetap mendoakan Anda:
Agar menjadi pemimpin yang amanah, yang takut HANYA kepada Allah ‘azza wa jalla, Sang Penguasa alam semesta.

Tapi sungguh, kawan…
Membayangkan itu semua,
Aku berjanji pada diri untuk tidak akan mau menjadi presiden di Indonesia.
“Duhai Allah, karuniakan untuk kami para penyejuk mata dari pasangan hidup kami, serta dari keturunan-keturunan kami. Dan jadikanlah kami sebagai “presiden”nya orang-orang yang bertaqwa.”

Makassar, 25 Ramadhan 1435 H
Muhibbukum fillah,
Muhammad Ihsan Zainuddin.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: