Tak Ada Mahabarata di Rumah Kita

mahabharata

Mahabarata-

Mahabarata

 

*** Tak Ada Mahabarata di Rumah Kita ***

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
SubhanAllah Alhamdulillah Allahu Akbar

Moga tak ada tontonan Mahabarata di rumah kita…

Sungguh tak layak bagi keluarga muslim untuk menyetiakan diri di depan layar televisi sambil bersimpuh khusyu’ menonton Mahabarata, Khrisna, Mahadewa, dan sejenisnya yang merupakan parade kisah sesembahan-sesembahan orang musyrik. Ini adalah virus akidah yang tak layak berakar di beranda rumah seorang muslim yang meyakini hanya Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang berhak disembah dengan benar.

Sungguh kisah-kisah fiktif yang merupakan rentetan kisah yang mereka dewakan bukanlah nutrisi, madu atau susu yang harus disuplai di hadapan anak-anak termasuk di hadapan orang tua sendiri. Suapan-suapan kisah yang ada justru akan menjadi virus yang akan menghantam jantung akidah seorang muslim.

Rasanya begitu memilukan sekiranya keluarga muslim menjadi hamba bagi kisah fiktif Mahabarata. Mereka menyediakan dan mengkhususkan waktu untuk mendengar, menonton dan menikmati kisah dusta lagi kufur.

Tak ada risih. Tak ada rasa malu terhadap mushaf al-Quran yang ada di rak. Tak ada malu terhadap al-Qur’an yang tersimpan dalam dada. Tak ada risih terhadap maksiat yang diperagakan oleh artis India itu. Begitu asyik dan begitu menikmati.

Kesetiaan mereka untuk duduk di majelis tontonan ini menandakan adanya ketertarikan terhadap kisah yang ada. Dewa dan anak dewa yang ditokohkan oleh lelaki dan wanita yang mempertontonkan aurat telah mampu menarik hati sebagian kaum muslimin.

Bagaimana mungkin keluarga muslim duduk asyik mencerna potongan-potongan kisah orang musyrik..?

Di manakah wibawa bulan-bulan haram yang mestinya dimuliakan..? Kenapa justru membiarkan kisah Mahabarata menjadi suapan dan tuntutan..?

Di manakah kewibawaan tauhid yang bersarang di dada sehingga tak mampu beranjak dari hadapan layar kaca..?

Sungguh, kesempurnaan tauhid tergapai apik dengan meninggalkan sesembahan lain termasuk kisah picisannya. Ketika Islam mengharamkan parade ritual kesyirikan yang dilakoni millah lain maka Islam mengharamkan pula kaum muslimin untuk larut dalam kisah-kisah mereka.

Allah berfirman:

“. . .Maka jauhilah penyembahan berhala yang najis itu dan jauhilah pula qaula az-zur.”
(QS al-Hajj: 30)

Para ulama menyebutkan bahwa makna “qaul az-zur” adalah semua ungkapan-ungkapan yang diharamkan termasuk pula ungkapan dusta. Para ulama juga menjadikan tontonan terhadap “qaul az-Zur” adalah hal yang haram.

Lihatlah Allah menggandengkan larangan terhadap “qaul az-zur” dengan larangan menjauhi sesembahan dan berhala. Anehnya, justru sebagian kaum muslimin menjadikan kisah Mahabarata dan sejenisnya yang lebih dari “qaul az-zur” sebagai hiasan mata dan telinga di depan layar kaca.

Rumah kita adalah rumah cahaya yang dipenuhi dengan binar dan kemilau ilmu dan amal. Rumah kita adalah bahtera untuk menyelematkan penghuninya dari terpaan ganasnya gelombang fitnah sehingga kelak berlabuh syahdu di taman Surga dengan kehendak Allah Rabb alam semesta.

Rumah kita adalah rumah al-Qur’an yang di dalamnya terbaca ayat-ayat Allah agar terpahami dengan baik titah-titah Rabb hingga menjadi pedoman untuk mengukuhkan iman di musim kemarau yang menggersangkan mata air takwa.

Rumah kita adalah rumah al-Qur’an yang ayat-ayatnya terlantukan oleh para penghuninya agar qalbu tersirami dengan Kalam Rabbani bak musim hujan yang menyirami pohon-pohon hingga ia menyemikan bunga-bunga iman.

Rumah kita adalah madrasah mini yang didalamnya dibacakan hadits-hadits yang merupakan konsep hidup sang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hingga para penghuninya memahami dengan baik bahwa sang nabi adalah teladan dalam segala lini kehidupan ini.

Tak ada teladan lain selain keteladanan yang pernah diperagakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam. Tak ada sosok lain yang lebih mengagumkan dan layak dikagumi selain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam. Tak ada kisah lebih heroik yang pernah terkisahkan di muka bumi sepanjang masa dibandingkan kisah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam.

Wa’alaikum sallam warohmatullahi wabarokatuh.
Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar Walahaulawala Quwwata illabilla hil ‘aliyil ‘azhim. Allahumma sholli ‘ala Muhammad, wa ‘ala ali Muhammad. Astaghfirullahal ‘azhim wa atubu ilaih.

Kebun Nanas, Jakarta Timur, 21 Dzulhijjah 1435 H

Penyusun: Fachriy Aboe Syazwiena

Sumber: RemajaIslam.Com

Semoga bermanfaat.
Baarakallahu fiykum

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: