Kata Hati Risma

Risma surabaya

 

Kata Hati Risma
15 Februari 2014 pukul 21:44
Apa kata hati Tri Rismaharini (Walikota Surabaya)? Berikut ini kutipan-kutipan bijak dari Ibu Risma dalam wawancaranya di Mata Najwa.
“Jabatan cuma titipan. Kalau saya tidak mampu, ya tidak bisa dipaksakan.”
***
“Saya berprinsip bahwa tanggung jawab saya yaitu masyarakat Surabaya lebih sejahtera.”
***
“Jadi walikota itu harus adil, tidak boleh membeda-bedakan. Ini yang sulit.
***
“Saya tidak berpikir apa gaya ini pantes buat walikota. Yang penting kalau satu masalah selesai, saya bisa kerjakan yang lain.
***
“Saya tidak peduli orang ngomong apa, karena ini saya pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.”
***
“Saya memang selalu mengecek sesuatu sampai ke hal detail.”
***
“Saya akan merasa puas dan senang kalau pekerjaan bisa berjalan baik. Itu yang buat saya semangat lagi.”
***
“Awalnya saya berpikir penutupan lokalisasi akan menambah masalah baru. Tapi saya ikuti kata hati dan Tuhan tunjukkan jalan.”
***
“Saya telusuri kasus trafficking anak-anak, apa penyebabnya. Dari keluarga, sekolah dan pergaulan mereka.”
***
“Saya sampai turun ke sekolah mereka, saya ajari mereka supaya tidak mempengaruhi anak-anak yg lain.”
***
“Saya sudah ikhlas kalau saya sampai mati karena masalah ini.”
***
“Saya pagi-pagi sudah keluar rumah tanpa perencanaan mau ke mana. Tapi saya selalu menemukan sesuatu di jalan.”
***
“Kadang bertemu dengan anak-anak jalanan atau yatim piatu. Saya ambil dan rawat mereka, saya sekolahkan.”
***
“Kalau saya pergi ke suatu tempat, saya temukan sesuatu dan langsung saya selesaikan masalahnya.”
***
“Ancaman ada. Tapi saya ikhlas, tinggal tunggu kapan Tuhan ambil nyawa saya.”
***
“Semua yang terbaik sudah saya berikan untuk rakyat Surabaya, semua yg saya miliki.”
***
“Saya berikan ilmu dan pikiran. Saya sudah berikan semuanya.”
***
“Memang masih banyak rakyat kecil yang bergantung pada saya. Itu yg menjadi pertimbangan saya.”
***
“Sebetulnya saya ikuti saja apa kata hati. Saya seperti diarahkan, mengalir saja.”
***
“Ah, saya tidak tertarik (untuk jadi Presiden). Surabaya aja cobaannya seperti ini. Bagaimana jadi Presiden?”
***
“Sekian juta orang gantungkan nasibnya pada kita. Bagaimana pertanggungjawabannya? Masa saya tidak boleh masuk surga?”
***
“Belah dada saya, lihat apa perasaan yang ada di hati saya. Tidak ada niat jd Presiden.”
***
“Saya yang tahu siapa saya. Indonesia ini negara yang besar, tapi saya tidak punya apa-apa.”
***
“Untuk anak-anakku, tidak usah berpikir asal dan siapa orang tua kalian. Kalian berhak untuk berhasil, karena Tuhan adil.”
***
“Semakin lama semakin baik kalian, semakin banyak prestasi yang kalian raih. Terima kasih anak-anakku.”

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: