“Kita Bisa Saja Berbohong Pada Orang Tapi Tidak Pada Allah” by @CintaQuranID

Dimana allah

 

“Kita Bisa Saja Berbohong Pada Orang Tapi Tidak Pada Allah”

Abdullah bin Umar bertemu dengan seorang pengembala kambing ditengah padang pasir yang tandus , Setelah mengucap salam, Dia berkata

”Hai pengembala, aku ingin membeli seekor kambing yang kau gembala ini. Bekalku sudah habis.”

”Maaf Tuan, aku hanyalah seorang budak yang mengembalakan kambing-kambing ini.

Aku tidak bisa menjualnya. Ini bukan milikku tapi milik majikanku.” Jawab pengembala itu.

”Ah itu masalah yang mudah. Begini, kau jual seekor saja kambingmu padaku.

Kambing yang kau jaga ini sangat banyak, tentu akan sangat sulit bagi tuanmu untuk menghitung jumlahnya.

Atau kalaupun dia tahu ada sesekor kambing yang berkurang, bilang saja telah dimangsa srigala padang pasir.

Mudah sekali, bukan? Kau pun bisa menikmati uangnya.” Bujuk Abdullah bin Umar dengan serius.

”Lalu, di mana Allah? Majikanku memang tidak akan tahu dan bisa saja dibohongi,

tetapi ada Dzat Mahatahu, yang pasti melihat apa yang kita lakukan. Apa kau kira Allah tidak ada?” Jawab pengembala itu mantap.

Sungguh jawaban itu membuat Abdullah bin Umar tersentak kaget.

”Aku tidak diberi kuasa oleh majikanku untuk menjual kambing ini. Aku hanya diperbolehkan mengembalanya

dan meminum air susunya ketika aku membutuhkannya dan memberi minum para musafir yang kehausan.”

”Minumlah Tuan, kulihat anda kehausan. Jika masih kurang bisa tambah. Jangan kuatir, susu ini halal.

Allah tahu ini halal sebab pemiliknya menyuruhku memberinya pada musafir yang kehausan.” Tutur pengembala dengan wajah ramah.

Abdullah bin Umar meminum susu itu dengan perasaan terharu. Dia minum sampai rasa hausnya hilang. Setelah itu, dia mohon diri.

Dijalan, dia tidak bisa menyembunyikan tangisnya, teringat kata-kata pengembala itu, ”Di mana Allah? Apakah kau kira Allah tidak ada?”

Dia menangis mengingat seorang bocah pengembala kambing di tengah padang pasir

yang pakaiannya kumal, ternyata memiliki rasa takwa yang begitu dalam.

Dia memiliki kejujuran yang tinggi. Hatinya menyinari keimanan. Akhlaknya sungguh mulia.

Sesungguhnya ajaran Rasulullah telah terpatri dalam jiwanya.

Abdullah bin Umar terus melangkahkan kakinya sambil bercucuran air mata.

Selanjutnya Abdullah bin Umar membeli budak itu dan langsung memerdekakannya.

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: