JELANG MAGRIB DAN BUKA PUASA

 

Ramadhan perbaiki diri

Ramadhan pintu terbuka

Magrib dan buka Puasa

Puasa doa buka puasa

sholat-magrib arab

 

JELANG MAGRIB DAN BUKA PUASA .

Merasakan Ramadhan

Ramadhan bagi setiap orang berbeda rasanya, berbeda maknanya. Bila ramadhan bagi kita begitu menyenangkan. Mungkin tidak semenyenangkan yang dirasakan oleh orang lain.

Mari saya aja tamasya pikiran sejenak. Bila ibadah di ramadhan kita 30 hari kedepan begitu tenang. Kita bisa membuat target-target ibadah yang tinggi. Mampu ikut kajian di mana-mana. Lalu kita merasa begitu sempurnanya ramadhan kita kali ini dengan segenap pencapaian tersebut.

Mari jalan-jalan, di jalanan sana ada petugas-petugas yang harus menjaga pintu kereta, ada yang harus mengawas lalu lintas, ada yang harus bahkan mencari nafkah, menjadi karyawan di toko-toko dan lain-lain. Ada orang-orang yang hendak tarawih saja keteteran. Mereka harus selalu awas dengan tanggungjawab pekerjaannya. Hilang waktu untuk keluarga-keluarganya.

Sementara kita begitu bahagia. Setiap sore buka bersama, pergi tarawih dengan leluasa. Mau sahur pun sudah tersedia. Kita tinggal duduk bersama.

Sejatinya apakah makna ramadhan ini diukur dengan ibadah-ibadah ritual saja? Atau ibadah yang lebih dari itu? Bila sekedar ibadah ritual, mengapa harus menunggu ramadhan. Mengapa ketika ramadhan tiba seolah-olah banyak hal menjadi terlihat alim. Dari toko-toko sampai tayangan televisi. Sampai ke hal-hal yang kita jalani sehari-hari.

Apakah ramadhan hanya sekedar meningkatkan ibadah ritual tapi tidak secara spiritual lengkap dengan penerapannya. Islam menjadi ambigu ketika apa yang diajarkan tidak diamalkan oleh pengikutnya. Ramadhan pun menjadi ambigu bila hanya dibulan ramadhan intensitas ibadah naik berkali-kali lipat tapi esok selepas ramadhan, semuanya kembali ke normal.

Mari kita rasakan, mari kita lihat segala sesuatu dari luar diri kita. Mari kita berkaca, apakah ramadhan hanya akan kita isi dengan berlomba-lomba berkali-kali mengkhatamkan Quran. Atau yang lebih esensi dari itu, berlomba-lomba sebanyak-banyaknya mengamalkan isi Quran kedalam kehidupan sehari-hari. Akhlak terbaik dari manusia adalah miliki Nabi Muhammad, sebab akhlak beliau adalah Al Quran. Mampukah kita menjadikan Al Quran sebagai akhlak kita? Paling tidak berusaha setiap hari kita berusaha menambah amalan kita?

Jangan sampai kita banyak membaca Quran tapi dengan sengaja melanggar apa yang kita baca. Merasa biasa-biasa saja. Ibadah vertikal haruslah selaras dengan ibadah horisontal. Mari kita rasakan ramadhan kita kali ini. Bila cara kita menjalani ramadhan kali ini masih sama saja dengan tahun lalu, berarti kita belum kemana-mana.

Selamat dan semangat untuk ramadhan yang lebih dari sekedar ibadah ritual. Bismillah untuk hari ini. Aamiin. [(c)kurniawangunadi | 1 Ramadhan 1435H].

Puasa bukan hanya menahan haus dan lapar, tetapi juga membelajarkan kita merasakan nasib orang lain yang kurang mampu .

Barangsiapa tidak dapat meninggalkan ucapan&perbuatan Dusta Sewaktu Berpuasa maka Allah tidak membutuhkan lapar&Dahaganya (HR.Bukhari)

3 amalan yang disukai Allah : sholat tepat waktu, berbuat baik kepada orang tua, dan jihad dijalan Allah. (Muttafaq’alaih)

Selamat ifthar yang ke 6 & ke 5 saudara2 mukmin. & selamat menjalani ibadah sholat MAGRIB . Barakallahu

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: