SEBENAR-BENARNYA CINTA

 

Doa 7

 

SEBENAR-BENARNYA CINTA

Satu bulan sudah Ivanka menjadi freelance di perpustakaan kampus membantu Bu
Lily dan Sania. Mungkin sebagian orang berfikir bahwa pekerjaan ini sangat membosankan. Tapi baginya, pekerjaan ini adalah pekerjaan terbaik untuk mengusir jenuh hingar bingar kehidupannya.
“Ivanka, tolong kau rapikan buku – buku ini, yah” pinta Bu Lily, Ivanka mengambil tumpukan buku di meja Bu Lily. Satu persatu buku di kembalikan ke dalam rak nya masing – masing,
namun ada satu buku yang membuatnya bingung mencari tempat asalnya. Ivanka kembali ke meja kerjanya, mengetik judul buku Munthakab Al-Hadits tapi tidak ada hasil, begitu pula dengan nama pengarangnya
“Bu Lily, koq aku tidak dapat data tentang buku ini yah?” Ivanka memutuskan bertanya kepada Bu Lily, Bu Lily pun menghampiri melihat buku tersebut.
“Oh, mungkin ini milik Faris. Terbawa saat dia mengembalikan buku siang tadi. Simpanlah dulu, pasti dia akan kembali untuk mengambilnya”

Keesokan harinya, Bu Lily berbicara dengan seorang mahasiswa lalu meminta nya ke meja Ivanka
“Mba, ada buku saya?”
“Buku yang mana?”
“Judulnya Munthakab Al-Hadits” menunduk, gugup. Ivanka memperhatikannya, cukup tampan, tapi sayang penampilannya terlihat lebih tua dari usianya mungkin karena celana gantung, peci dan jenggot tipisnya.
“Sepertinya tidak, baru dengar juga judulnya” berbohong, entah apa maksudnya.
“Masya Allah, dimana yah?” Gumamnya
“Ivanka, itu Nak Faris mencari buku yang tertinggal kemarin” Bu Lily mengingatkan dari mejanya
“Bukunya penting sekali, yah?”
“Iya, penting. Mau saya baca bersama teman – teman di Masjid 15 menit lagi” jawabnya dengan tetap menunduk
“Kalau aku kasih bukunya, kamu mau kasih apa ke aku?”
Ivanka menjalankan misi jahil yang terlintas di otaknya
“Maksudnya, mba? Saya tidak paham” Tetap menunduk
“Iya, kalau aku kasih buku itu ke kamu, kamu mau kasih aku apa? Selain ucapan terima kasih lho yah” menggoda
“Jadi bukunya ada sama mba?”
“Iyaaaa, ada sama aku tapi kamu temani aku makan siang di kantin yah” Syahrini Mode On
“Tidak bisa, mba. Ya sudah saya tidak jadi ambil bukunya” Pergi, berlari.
Bingung, koq ada yah lelaki seperti itu?
Jangan-jangan bukan “lelaki”?
Jarang – jarangkan aku ajak lelaki makan bareng lebih dulu, Batin Ivanka
“Kamu nih, iseng sekali. Faris tuh bukan laki – laki yang seperti itu” Sania mengambil buku itu dan meminta Mang Ujang mengantarnya.
“Beda bagaimana? Tidak suka perempuan? Ah zaman sekarang banyak yang seperti itu, yah”
“Iya, tidak suka perempuan agresif seperti kamu. Dia tuh sukanya perempuan – perempuan yang seperti itu tuh” Bu Lily menujuk kearah kumpulan mahasiswi yang menggunakan baju dan rok serta jilbab panjang
“Dan dia laki – laki yang anti pacaran. Nah kalau kamu?” Sambung Sania
“Ih, sania” Cemberut.

Tidak seperti biasanya, hari ini pekerjaan mereka selesai cukup malam.
“Sania, Bu Lily. Sudah malam, bareng mobilku yah” Pinta Ivanka
“Mampir makan dulu, yuk” ajak Ivanka.
“Tidak bisa Van, tidak enak sama anak – anak dan juga suami ibu” Jawab bu Lily
“Aku juga, Van. Suamiku menunggu di rumah. Kita berdua turun di simpang itu saja, Van. Lebih gampang cari angkotnya. Thanks yah”
Ivanka menepikan mobil. Dia memutuskan tetap mampir ke tempat makan walaupun sendiri
“Duh, parkirnya jauh lagi” menggerutu saat keluar dari mobil.
“Jangan bergerak” terdengar suara laki – laki dari belakang dan menodongkan pisau.
“Jangan berteriak” lanjutnya, semakin menekankan pisaunya ke leher Ivanka.
Sementara dua orang lain nya merampas dompet dan perhiasan Ivanka
“cantik juga orangnya, bawa sekalian”
Ivanka berontak, mereka menarik Ivanka dan membekap kencang mulutnya.
“Woy, lepasin” seseorang berteriak saat mereka menyeret Ivanka. “Maaaalliiiiiiing” orang – orang pun segera berkumpul kearah mereka. Satu persatu mencoba menolongnya, perkelahian pun terjadi semakin lama semakin banyak massa yang berkumpul.
Massa semakin beringas, Ivanka terlepas dari genggaman lelaki yang menyeretnya tadi dan “BUUGGH”
Pusing. Limbung. Gelap.
Ivanka membuka mata, nanar, terlihat dua lelaki di bagian depan mobil dan seorang gadis muda berjilbab hitam panjang memangku kepalanya.
Dan kembali semuanya gelap.

Tersadar, Ivanka berada di pembaringan rumah sakit “Alhamdulillah” suara gadis berjilbab hitam
“Kamu siapa?” Ivanka heran
“Aku Ashila, kak” jawabnya
“Koq ada disini?”
“Disuruh kak Umar menemani kakak, katanya sampai kakak sadar dan kakak bisa menghubungi keluarga kakak”
“Umar, siapa?”
“Umar kakak aku, tadi kak Faris kakak sepupuku telefon. Mereka satu dikampus dengan kakak. Kak Umar baru masuk tahun ini tapi kalau Kak Faris sudah hampir selesai, kak. Kata Kak Faris ada teman kampusnya yang kecelakaan. Perempuan, Kak Faris tidak bisa menemani sendirian, jadi Kak Faris minta Kak Umar dan aku menemani kakak disini” Jelas Ashila.
“Aku kenapa?”
“Kakak tuh dirampok, terus kakak mau dibawa gitu deh sama perampok itu. Iiih mengerikan, kakak sih malam – malam jalan sendirian, bajunya seksi lagi. Rampoknya berhasil lolos, kak. Alhamdulillah kakak selamat, tas kakak juga nih.
Tapi kepala kakak kena tinju sama salah satu perampoknya, kakak pingsan, hidung kakak berdarah jadi kita bawa kesini”
Ooh, jadi tadi Faris yang berteriak di parkiran makanya banyak orang yang menolongku. Batin Ivanka.
“Kak, ini tas nya. Di periksa dulu Kak” Ashila memberikan tas
Ku periksa tasku, syukurlah semuanya lengkap, hp, kunci mobil dan yang lainnya hanya kalung dan gelangku yang putus.
“Kak, mau telfon keluarga kakak?”
Ivanka terdiam, dirumah hanya ada Mak Ning dan Pak Hasan suami istri yang menjaga rumah. Telfon Mama Papa di Singapura? Belum tentu juga bisa datang, percuma.
“Ashila mau pulang yah?”
Ashila termenung
“Kalau Ashila pulang, kakak sama siapa? Masa’ lagi sakit sendirian? Coba aku tanya Kak Faris dan Kak Umar di luar yah, sekalian aku kasih tau mereka kalau kakak udah sadar” celoteh gadis yang masih duduk di kelas 11 ini
“Lho, mereka masih disini, koq di luar ?”
“Mana mau mereka masuk, bukan mahrom”
“Mahrom ?” Bingung.
Ashila kembali kekamar setelah berbicara dengan Umar
“Kak, aku tidak bisa menemani kakak. Tapi ?? ??? ???? besok aku ke sini lagi. Boleh ya, kak?” Tanya Ashila
“Iya,teri ma kasih yah. Sampaikan juga ucapan terima kasihku buat Umar dan Faris” Ivanka tersenyum, ia menyukai gaya ceplas – ceplos gadis itu.

Setelah pulih pertemanan antara Ivanka dan Ashila berlanjut, walaupun perbedaan usia mereka sangat jauh namun Ivanka merasakan suatu kesejukan dari Ashila yang tidak pernah dia dapatkan dari teman – teman lainnya. Ashila banyak memberikan pengetahuan tentang Islam kepadanya, tentang kewajiban, larangan, yang tidak pernah Ivanka dapatkan sebelumnya.
“Wah, San. Ivanka dapat hidayah nih setelah keluar dari rumah sakit. Sholatnya full, Alhamdulillah” Bu Lily mengucap Syukur
“Iya, Bu. Alhamdulillah. Tapi kurang tau yah, bu. Karena rumah sakit atau karena yang antar dia ke rumah sakit? Faris tuh, buuuuu?”
Wajah Ivanka memerah
“Soalnya tiap keluar dari masjid, dia tuh suka tengok – tengok mencari seseorang gitu, bu” Lanjut Sania
“Apa sih, San? Ih Suudzon aja nih sama aku. Aku tuh tengok – tengok bukan mencari orang tapi mencari sandal ku” membela diri sebenarnya dalam hati Ivanka mengakui hal itu. Ivanka pernah sengaja menghampiri Faris untuk mengucapkan terima kasih, tetapi sayang Faris hanya sedikit mengangguk lalu meninggalkannya. Dan semenjak itu Ivanka hanya berani mencuri – curi pandang dari jauh.

“Assalamualaykum, Ashila. Kamu ada waktu? Kita keluar yuk. Aku jemput yah jam 10 pagi. Oke” Ivanka menutup hp nya setelah mendapatkan jawaban setuju dari Ashila.
“Kita mau kemana, kak?” Tanya Ashila saat masuk kedalam mobil
“Belanja yuk. Oya, kamu kalau belanja dimana?” Tanya Ivanka
“Di pasar, kak” polos
“Maksud kakak, belanja baju-baju, Shilaaaa” Gemas
“Oooh. di Tenabang Kak. Yuk, nanti aku antar ke tempat langganannya ummi. Bagus-bagus, kak. Harganya juga paling murah di banding toko lainnya” Semangat, mobilpun meluncur kearah Tenabang. Sesampainya di toko Ashila membantu Ivanka memilihkan baju yang cocok untuknya
“Mau cari baju buat siapa, kak?
“Ya buat kakak”
“Baju Muslim?”
“Iya, kakak mau seperti kamu”
“Pakai jilbab juga?” Ivanka mengangguk
“Alhamdulillah”
“Kakak, serius mau pakai jilbab?” Ashila memastikan
“Iya, bantu kakak pilih baju dan jilbab yang cocok yah”
“Oke ! Kakak kenapa mau pakai jilbab? Karena Kak Faris yah?” Penuh selidik
“Ih, koq kamu bicaranya seperti itu?”
“Hehehe, cuma ingat kata-kata Umi Kak. Kalau kita melakukan sesuatu itu harus karena Allah SWT. Jangan karena yang lainnya. Kan kakak mau pakai jilbab. Jadi kakak harus niatkan dalam hati kalau kakak berjilbab itu karena mengikuti perintah Allah, terus ikuti aturannya secara benar” Ashila menjelaskan
“Lho memangnya pakai jilbab ada aturannya, Shil?”
“Ya ada, kak. Pakai jilbab tuh harus menutupi dada, kak, sunnah nya menutupi wajah, bercadar maksudnya. Terus pakaian tidak boleh yang menampilkan lekuk tubuh kita, warna, asesoris, model jilbabnya juga harus diperhatikan jangan yang menarik perhatian laki-laki, kak.
Alhamdulillah, sekarang memang banyak perempuan yang pakai jilbab, Tapi sayang mereka kurang memperhatikan aturan yang di tetapkan Allah SWT. Sekedar ikut-ikutan, masih banyak yang menonjolkan lekuk tubuh, dan kecantikan mereka di depan umum”
“Memangnya kita tidak boleh terlihat cantik, Shil?” Tanya Ivanka
“Boleh, kak. Tapi hanya untuk yang berhak saja, keluarga kita tentunya. Tubuh kita ini kan milik Allah, jadi kita tetap harus merawatnya sebagai wujud syukur kita kepada Allah. Tapi yang tidak di bolehkan itu, kita memperlihatkan kecantikan kita kepada semua orang apalagi laki-laki yang bukan mahrom kita. Kita kan tidak tau apa yang ada difikiran mereka.”
“Oh, iya yah. Laki-laki zaman sekarang otaknya banyak yang tidak beres. Ih, kamu koq pintar sih?” Ivanka memuji
“Itu kata-kata Ummi, Kak. Setiap pagi, Ummi selalu mengingatkan aku masalah itu yah jadinya aku hafal deh” Ashila tertawa
“Kakak naksir kak Faris yah?”
“Lho koq jadi ke situ, Shil?”
“Hehehe… Dari gelagatnya siiiiih… Kakak kalau suka minta langsung saja sama pemiliknya”
“Orang tuanya, maksud kamu?”
“Kak Faris yatim piatu dari kecil, kak. Dulu tinggal di rumah, dia sudah seperti kakak bagiku dan kak Umar, selepas SMU Kak Faris memutuskan tinggal sendiri sambil buka usaha toko buku dan foto kopi di komplex sekolahan dekat rumah. Awal nya cuma kecil-kecilan, kak. Tapi sekarang kak Faris sudah punya karyawan, beli rumah, terus tempat usahanya sudah jadi milik sendiri, kak. Biaya kuliah tidak dibantu lagi oleh Abi, tahun ini selesai. Jadi tinggal cari istri deh, kakak mau daftar kaaaaan?” Goda Ashila
“Idiiiiih, apa sih kamu? Kamu kali tuh yang mau jadi saudara kakak. Jadi jodoh-jodohin kakak sama Faris” Elak Ivanka.
“Iiiih, kak Ivanka ge er” mereka pun tertawa bersama
“Terus yang kamu maksud pemiliknya siapa? Faris punya pacar maksudnya?” Ivanka bertanya
“Tuh kaaaan, penasaran. Ya bukanlah, mana boleh pacaran. Pacaran tuh nanti kalau sudah menikah. Itu juga kata-kata Ummi ya, Kak. Hehehehe.
Mintanya sama Allah SWT, kak. Pemilik segalanya, kalau misalnya cuma minta sama Orang tuanya belum tentu juga kan anak nya mau, terus ada juga yang anak nya mau tapi orang tuanya tidak setuju. Jadi, tempat kita meminta satu-satunya yah Allah SWT, kak”
“Itu kata-kata kamu atau Ummi?”
“Ummi laaaah, kak”
“Kalau kita minta sama Allah SWT, pasti dikasih ya, Shil?”
“Kalau itu baik buat kita pasti di kasih, kak. Kalau tidak di kasih pasti di ganti dengan yang lebih baik”
Ivanka mengangguk tanda mengerti, itulah yang membuat Ivanka menyukai Ashila seperti memiliki Ustadzah pribadi.

Ivanka mantap dengan keputusannya hari ini ia memakai gamis berwarna coklat dan jilbab lebar senada dengan warna gamis yang ia kenakan.
“Subhanallah, Bu Lily. Duh, makin cantik yah.” Sania kagum dengan perubahan yang terjadi pada Ivanka
“Masya Allah, Alhamdulillah semoga istiqomah” Ivanka menyambut pelukan hangat dari Bu Lily dan Sania.

Sudah beberapa hari ini Ivanka tidak melihat Faris
“Yang di cari tidak ada ya, Van?” Tegur Sania seusai sholat dzuhur, Ivanka hanya membalas dengan senyuman.
“Hallo, Assalamualaykum Ashila”
“Walaykumsalam,kak” jawab Ashila
“Kehilangan seseorang ya,Kak? Kak Faris lagi dakwah 40 hari Negeri Jiran, Kak. Tapi tepat kemananya aku kurang tahu, antara Malaysia atau Australia. Maaf ya, kak aku juga baru tahu semalam dari Kak Umar” Ashila menjelaskan tanpa sempat Ivanka bertanya.
Ivanka menarik nafas panjang lalu menutup telefonnya.

Keinginan Ivanka memperdalam ilmu agama makin kuat dan mempererat persahabatannya dengan Ashila, mulai belajar baca Iqro sampai dengan belajar sholat-sholat sunnah pada Ashila.
“Kak, sholat tahajud sudah di praktekan belum?” Tanya Ashila
“Sudah, sih. Tapi masih bolong-bolong. Gimana yah biar bisa rutin, susah bangun malamnya, Shil?” Tanya Ivanka
“Sebelum tidur wudhu dulu, kak. Niatkan dalam hati untuk sholat tahajud, lanjut dengan baca Zikir Fatimah. Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu Akbar 33x dan Laailahailallahu wahdahulahsyarikallah lahulmulkuwalahulhamdu wahua alakullisyaiinkodir 1x. ?? ??? ???? kakak pasti bisa bangun malam untuk tahajud. Dan juga waktu bangun badan kakak segar bugar deh” jelas Ashila
“Hmm Ya, ?? ??? ???? mulai malam ini di praktekan”
“Oya, nih kak ada tutunan sholat Istikharah. Katanya mau minta Kak Faris. Rayu Allah dengan tahajud dan Istikharah, Kak. Hehehehee”
“Ih, apa sih kamu?” Cubit Ivanka

Perubahan demi perubahan terjadi pada diri Ivanka. Selain Ashila, Ivanka banyak berteman dengan akhwat-akhwat di masjid kampusnya, dan juga rajin mengikuti acara-acara yang di adakan masjid kampus. Sholat-sholat sunnah pun mulai dikerjakan terutama tahajud dan istikharah.
“Ah, kenapa aku bermimpi seperti itu berkali-kali. Siapa lagi tuh bule muncul tiba-tiba dalam mimpi. Kenal pun tidak” gerutu Ivanka yang membuat Sania bingung
“Kenapa, Van?” Tegur Sania
“Eh, San. Tidak ada apa-apa koq” senyum. Tapi wajah lelaki bule itu hadir kembali, Ivanka coba mengingat semua teman-teman baik yang asli Indonesia maupun temannya yang di luar negeri tapi tetap tidak berhasil.
Seusai sholat dzuhur Ivanka di kejutkan dengan sosok laki-laki yang tidak sengaja menabraknya di depan pintu perpustakaan.
“Maaf, Ukh. Tidak sengaja”
“Faris ?” Ivanka seperti mendapat kejutan, begitu pula dengan Faris terkejut melihat perubahan Ivanka.
“Maafkan saya” Faris kembali meminta maaf, Pandangan Ivanka masih tertuju kepada Faris dengan hati yang penuh bunga,namun tak berapa lama seorang mahasiswa menghampiri Faris.
“Masya Allah, Barakallah ya Akhi. Wah, gimana nih rasanya jadi pengantin baru”
“Subhanallah. Jazakillah ya Akhi ….” Sambil berlalu meninggalkan Ivanka.

Sesak. Pucat
Remuk redam
Tak percaya

Dengan perasaan campur aduk Ivanka melangkah ke meja kerjanya, air matanya membasahi kedua pipinya.
“Lho, Ivanka. Kamu kenapa?”
Tanpa menjawab Ivanka memeluk Bu Lily dan menangis sejadi-jadinya.

Ivanka merasakan sesak yang teramat sangat di dadanya, ia memutuskan untuk datang kerumah Ashila sepulang dari kerja.
“Assalamualaykum”
“Walaykumsalam, masuk kak Ivanka. Duduk yuk. Sebentar yah aku ambil minum” Ivanka duduk di ruang tamu, tak berapa lama Ashila kembali dengan membawa segelas minuman.
Hening
“Kak, ada yang harus aku beritakan ke kakak” Ashila mencoba membuka percakapan
“Maafkan aku, aku merasa sulit untuk menceritakan hal ini kepada kakak”
“Soal pernikahan itu?” Ashila terkejut ternyata Ivanka telah mengetahuinya
“Aku kemari memang untuk bertanya hal itu. Apapun yang kamu ketahui tolong katakan padaku” pinta Ivanka
“Kemarin Kak Faris dakwah ke Australia, kak. Di sana kak Faris menjadi pemimpin rombongan. Seorang bapak di Australia terpukau saat Kak Faris menjadi imam sholat dan berceramah, begitu bapak itu tahu kalau Kak Faris belum menikah, bapak itu pun meminta Kak Faris untuk menikah dengan anak perempuannya. Cuma itu yang aku tahu, kak. Sebenarnya kak Faris sudah pulang dari satu minggu yang lalu, hanya saja aku bingung bagaimana menyampaikannya ke kakak”
Ivanka menarik nafas
“Kamu ada waktu” tanya Ivanka
“Ada, kenapa Kak?”
“Antar aku ke rumah Faris”
Ashila terdiam, tak tahu apa yang harus di lakukannya.
“Kakak yakin? Apa yang akan kakak lakukan?”
“Hanya ingin berkenalan” jawabnya
Aku ingin tahu wanita seperti apa yang menjadi istrinya, hingga ia benar-benar tidak mempedulikan keberadaanku. Batin Ivanka
“Iya, kak. Selesai kita sholat Maghrib yah”

Selepas Maghrib mereka berdua menuju rumah Faris. Ivanka berada dibelakang Ashila saat Ashila mengetuk pintu
“Assalamualaykum”
“Waalaykumsalam” terdengar jawaban dari dalam rumah, lalu pintu pun terbuka. Muncul seorang perempuan bercadar dari balik pintu.
“Subhanallah, Ashila. Come on, go inside and sit down please”
Mereka berduapun masuk. Perempuan itu memperlihatkan wajahnya.
Ternyata wanita bule, Hmm tinggi juga seleranya. Ivanka bergumam dalam hati
“What are you doing, sister Fatimah. And where brother Faris?” Ashila bertanya
“I just Tadarus, Faris was silahturahim 2,5 Hours”
“Oke. Anyway, this is my friend. Sister Ivanka. She studied and work at the library university same with brother Umar and Brother Faris”
“Assalamualaykum, Ivanka. Senang berkenalan dengan kamu, Ashila anak yang baik dia sering menemaniku disini dan sekarang dia juga membawakan aku satu teman lagi. Semoga kita bisa bersahabat”
“Walaykumsalam, ya you’re right. She was a nice girl”
“Are you oke, Ivanka? You look so sad, why?” Tanya Fatimah
“No, i’m oke. I just cold and a little headache” Elak Ivanka. Ia lebih memilih diam selama Ashila dan Fatimah berbincang – bincang, diam – diam ia memperhatikan Fatimah.
Selepas Isya mereka pun pamit pulang, Ivanka mengantar Ashila sampai kerumahnya.
“Ayo, kak. Mampir lagi yuk” ajak Ashila
“Sudah malam, Ashila. Terima kasih ya”
“Kakak baik-baik saja kan?”
“Ya, aku baik. Pulanglah”

Mobil Ivanka meluncur dengan kecepatan 100km/jam menembus gemerlapnya jakarta malam hari, tanpa arah, mengikuti hati dan tak henti mengutuk dirinya sendiri.
Mengutuk kenapa harus benar-benar menaruh hati pada laki-laki itu.
Mengutuk bagaimana ia bisa dengan bodohnya membiarkan hati nya terluka.
Bodoh yah benar-benar bodoh,
Faris adalah hal terbodoh dalam hidupnya.
Ivanka menghentikan mobilnya tepat di parkiran salah satu tempat hiburan yang dulu sering ia kunjungi bersama teman-temannya.
Terdiam di belakang stir mobilnya
Hey, apa dia fikir menikah dengan wanita bule itu hebat?
Tak tahukah dia bahwa telah berpuluh-puluh laki-laki bule yang kutolak saat mencoba mendekatiku?
Dia fikir dia lelaki yang paling tampan? Mencampakkanku hanya demi wanita Australia itu?
Bagiku begitu mudah jika hanya ingin bersama dengan laki-laki bule dari manapun.
Perang batin masih berkecamuk dalam diri Ivanka,
Untuk apa aku merutuki diriku terus menerus? Bukankah aku memiliki dunia yang bisa memberikan apapun yang aku mau?
Bukankah aku memiliki teman-teman yang bisa menghiburku di dalam sana?
Yah, siapapun disana bisa menjadi temanku saat ini, akan kuhabiskan malam ini dengan mereka.
Pesta, yah berpesta merayakan pernikahan laki-laki bodoh itu, ah bukan dia.
Tapi merayakan pernikahan semua orang, itu lebih baik dan tentu akan lebih meriah.
Ivanka melepas jilbab yang menutupi kepalanya,
Namun ia kembali terdiam saat akan membuka pintu mobilnya.
Muak, Ivanka tiba – tiba muak.
Muak, membayangkan seperti apa pesta yang akan dilaluinya malam ini.
Muak, seakan dirinya mencium aroma parfum bercampur dengan aroma alkohol yang memenuhi ruangan di dalam sana.
Muak, dengan pesta yang tak memiliki batasan apapun antara laki-laki dan perempuan.
Muak, dengan dirinya sendiri.
Muak, kenapa dirinya bisa berada disini.
Ivanka kembali menyalakan mesin mobilnya, dan meluncur sekencang-kencangnya.

Sesampainya di rumah Ivanka memakai kembali jilbabnya, ia pun turun dari mobil dengan langkah gontai menuju kamarnya.
Termenung sejenak lalu melangkahkan kaki ke kamar mandi,
Ivanka berwudhu mensucikan dirinya, kemudian di bentangkannya sajadah dan menyerahkan diri pada-Nya.

“She, loves you. Faris”
“What are you talking about?”
“Ivanka. wanita itu mencintaimu”
Ucap Fatimah sambil merapikan mukenanya selesai bertahajud.
Faris terdiam
“Bagaimana denganmu, Faris?”
“Cinta itu suci Fatimah, tidak dapat di berikan kepada sembarang orang.
Cinta itu ikatan yang harus di jalin di jalan yang benar. Cintaku hanya akan ku berikan kepada wanita yang telah diciptakan hanya untukku.
Wanita yang datang setiap malam dalam mimpi setelah tahajud dan istikharahku.
Kaulah jawaban dari Istikharahku.
Kau adalah amanah yang harus ku jaga.
Kaulah yang menemaniku dalam membangun setengah tiang agama, dan bersama kita akan meraih kebahagian dunia akhirat dengan mengamalkan agama secara sempurna dalam keluarga kita kelak.
Kaulah sebenar-benarnya cintaku, Fatimah.”
Fatimah segera memeluk Faris
“Masya Allah. Aku percaya Allah telah memilihkan dirimu untukku. Tapi, maukah kau membantuku Faris?”
“Apa itu?”
“Maukah kau melamar, Ivanka?”
Faris terhentak dan melepaskan pelukannya
“Apa maksudmu? Sama sekali tak terlintas dalam benakku untuk menduakanmu.
Dan kau tahu hal seperti itu tidak dapat di lakukan sembarangan, Fatimah? Sudahlah hentikan pembicaraan ini”
“Maafkan, aku Faris. Saat pertama aku melihatnya aku tau Ivanka gadis yang baik, dia beruntung karena Allah SWT telah memberikan hidayah untuknya. Maka dari itu aku teringat akan bibi Sarah, sebelum kita berangkat bibi Sarah berpesan minta di carikan gadis Indonesia untuk Ahmad sepupuku. Ahmad sekarang berbisnis dan berdakwah di UK, ia perlu pendamping juga, Faris.
Jika kau berkenan, jembatanilah hubungan itu” Jelas Fatimah
“Astagfirullah, maafkan kesalahpahamanku, Fatimah. ?? ??? ???? kita hanya bisa berusaha, biar Allah yang menentukan”
“Ya, semoga Allah memberikan petujuk melalui Istikharah mereka berdua. Dan memberikan cinta yang sebenar-benarnya pada mereka”

Comments are closed.

%d blogger menyukai ini: